• Email:
      rsbanyumanik@gmail.com   

    Fax :
      (024) 7462181

    Informasi :
      (024) 7471519

 

 

CAPAIAN INDIKATOR MUTU RS BANYUMANIK SEMARANG SEMESTER I TAHUN 2019

 

a1 a2
Emergency Respon Time di IGD selama smt 1 sudah sesuai target. Petugas melakukan pelayanan terhadap pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan bukan berdasarkan waktu kedatangan pasien. Tabulasi pasien yang meninggal di IGD ≤  8 jam karena DOE (Death On Emergency).Petugas selalu melakukan tatalaksana pelayanan pasien sesuai dengan SPO dan algoritme di IGD. Selain itu, petugas juga berkonsultasi dengan DPJP sesuai kondisi pasien.

 

a1 a2
Kesalahan pemberian obat oleh petugas biasanya disebabkan oleh human error (kurang telitinya petugas dalam memberikan obat). Kepala Instalasi Farmasi meningkatkan bimbingan dan motivasi kepada petugas, terutama ketaatan dalam menjalankan SPO pemanggilan pasien. Untuk mencapai target, petugas selalu bekerjasama dan berkomunikasi efektif dengan Radiolog.

 

a5 a6
DPJP sudah mulai tertib dalam melakukan asesmen awal meskipun belum 100%, sehingga perlu dilakukan monitoring evaluasi untuk peningkatan capaian demi keselamatan pasien. Selama 6 bulan hanya ada 1 pasien jatuh pada bulan Maret. Setiap pasien dilakukan upaya pencegahan risiko cedera jatuh, seperti skrining risiko jatuh, asesmen awal risiko jatuh serta asesmen ulang risiko jatuh pasien.

 

Oleh: Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

RS Banyumanik Semarang

 

 

PROGRAM MUTU PRIORITAS & MUTU UNIT PELAYANAN

Oleh : KMKP RSB

 

Salah satu fokus area standar peningkatan mutu dan keselamatan pasien sesuai Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1 adalah tentang pemilihan, pengumpulan, analisis dan validasi data indikator mutu.

Berdasarkan Peraturan Direktur RS Banyumanik Semarang Nomor : 072/PER/RSB/I/2019 tentang Kebijakan Penetapan Indikator Mutu Tahun 2019, memutuskan bahwa indikator mutu yang dilakukan monitoring adalah sebagai berikut:

I. INDIKATOR AREA KLINIS
JUDUL INDIKATOR MUTU TARGET PENANGGUNG JAWAB
Kelengkapan asesmen awal medis dalam waktu 24 jam setelah pasien masuk rawat inap 100% Kepala Instalasi Rawat Inap
Waktu Lapor Hasil Tes Kritis Laboratorium 100% Kepala Instalasi Laboratorium & Instalasi Rawat Inap
Keterlambatan Hasil Foto Rawat Jalan 0% Kepala Instalasi Rawat Jalan
Ketidaktepatan Pemberian Obat (5 Benar) 0% Kepala Instalasi Farmasi
Kematian Pasien di IGD 0% Kepala Instalasi Gawat Darurat

 

II. INDIKATOR AREA MANAJEMEN
JUDUL INDIKATOR MUTU TARGET PENANGGUNG JAWAB
Kecepatan Respon Terhadap Komplain ≥75% Kepala Seksi Humas & Pemasaran
Keterlambatan waktu menangani kerusakan alat 100% Kepala Seksi RT & IPSRS
Keterlambatan Pelayanan Ambulans di Rumah Sakit 0% Kepala Seksi RT & IPSRS
Ketidaktepatan administrasi keuangan laboratorium 0% Kepala Instalasi Farmasi

 

III. INDIKATOR AREA SASARAN KESELAMATAN PASIEN
AREA INDIKATOR JUDUL INDIKATOR MUTU TARGET PENANGGUNG JAWAB
ISKP 1 Ketepatan identifikasi pasien Kepatuhan Identifikasi Pasien 100% Ketua Tim SKP
ISKP 2 Peningkatan komunikasi yang efektif Kelengkapan pengisian form Cacatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT) pasien sesuai SBAR 100% Kepala Instalasi Rawat Inap & Ketua Tim SKP
ISKP 3 Peningkatan keamanan obat Ketidaktepatan Pemberian Obat (5 Benar) 0% Kepala Instalasi Farmasi
ISKP 4 Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi Angka Kelengkapan Pengisian Surgical Checklist di Kamar Operasi 100% Kepala Instalasi Bedah
ISKP 5 Pengurangan risiko infeksi terkait pelayaan kesehatan Kepatuhan Cuci Tangan 85% Ketua Tim PPI
ISKP 6 Pengurangan risiko jatuh Kejadian pasien jatuh 0% Ketua Tim SKP

 

IV. INDIKATOR WAJIB
JUDUL INDIKATOR MUTU TARGET PENANGGUNG JAWAB
Kepatuhan Identifikasi Pasien 100% Ketua Tim SKP
Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Gawatdarurat ≤ 5 menit) 100% Kepala Instalasi Gawat Darurat
Waktu Tunggu Rawat Jalan 60 menit Kepala Instalasi Rawat Jalan
Penundaan Operasi Elektif 0% Kepala Instalasi Bedah
Kepatuhan Jam Visite Dokter Spesialis 80% Kepala Instalasi Rawat Inap
Waktu Lapor Hasil Tes Kritis Laboratorium 100% Kepala Instalasi Laboratorium & Instalasi Rawat Inap
Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional Bagi RS Provider BPJS 80% Kepala Instalasi Farmasi
Kepatuhan Cuci Tangan 85% Ketua Tim PPI
Kepatuhan Upaya Pencegahan Risiko Cedera Akibat Pasien Jatuh pada pasien Rawat Inap 100% Kepala Instalasi Rawat Inap & Kepala Tim SKP
Kepatuhan Terhadap Clinical Pathway 80% Ketua Tim CP
Kepuasan Pasien dan Keluarga 80% Kepala Seksi Humas & Pemasaran
Kecepatan Respon Terhadap Komplain ≥75% Kepala Seksi Humas & Pemasaran

 

V. INDIKATOR LOKAL
JUDUL INDIKATOR MUTU TARGET PENANGGUNG JAWAB
Kepatuhan Pengisian Catatan Medis Gawat Darurat pada pasien Gawat Darurat 100% Kepala Instalasi Gawat Darurat

 

VI. INDIKATOR TAHUN 2018
JUDUL INDIKATOR MUTU TARGET PENANGGUNG JAWAB
a. Indikator Area Klinik
Tidak Dilakukannya Penandaan Lokasi Operasi 0% Kepala Instalasi Bedah
Ketidaklengkapan Asesmen Pre Anestesi 0% Kepala Instalasi Bedah

 

Insiden Tertinggalnya Instrumen/Kasa /Benda Lain Saat Operasi 0% Kepala Instalasi Bedah
Keterlambatan Waktu Mulai Operasi > 30 Menit 0% Kepala Instalasi Bedah
Keterlambatan waktu penerimaan obat racikan 0% Kepala Instalasi Farmasi
Keterlambatan waktu penerimaan obat non racikan 0% Kepala Instalasi Farmasi
Pasien Rehabilitasi Medis Yang Drop Out ≤ 50% Koordinator Fisioterapi
Kesalahan Tindakan Rehabilitasi Medis 0% Koordinator Fisioterapi
Sisa Makan Siang Pasien Non Diit <20% Kepala Instalasi Gizi
Kelengkapan Asesmen Medis Dalam Waktu 24 Jam Setelah Pasien Masuk Rawat Inap 100% Kepala Instalasi Rawat Inap
Infeksi Daerah  Operasi IDO ≤ 1,5% Kepala Instalasi Rawat Inap
Kejadian Reaksi Transfusi ≤ 0,01% Kepala Instalasi Rawat Inap
Keterlambatan Operasi Sectio Caesarea 0% Ketua Tim PONEK
Kejadian Tidak Dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada Bayi Baru Lahir 0% Ketua Tim PONEK
Bayi Baru Lahir yang Tidak Mendapatkan ASI Eksklusif Selama Rawat Inap 0% Ketua Tim PONEK
b. Indikator Area Manajemen
Linen Hilang 0% Kepala Instalasi Sterilisasi & Laundry
c. Indikator SKP
Kelengkapan Asesmen Risiko Jatuh Pasien Rawat Inap 100% Ketua Tim SKP
d. Indikator Area Lokal
Kepatuhan Penulisan Resep Sesuai Formularium 100% Kepala Instalasi Farmasi
Kelengkapan Obat & Alkes di Troly Emergency 100% Kepala Instalasi Farmasi
Kepatuhan Telaah Resep 100% Kepala Instalasi Farmasi
Tidak Adanya Laporan Kesalahan Pemberian Obat Rawat Jalan 100% Kepala Instalasi Farmasi
Kepuasan Pelanggan Fisioterapi ≥ 80% Koordinator Fisioterapi
Pencatatan Asuhan Gizi Pasien Risiko Nutrisi dalam Rekam Medik 2×24 jam 100% Kepala Instalasi Gizi
Tidak Adanya Pasien Rujuk di IGD ≤ 5% Kepala Instalasi Gawat Darurat
Pemberi Pelayanan Persalinan dengan Tindakan Operasi 100% Koordinator Kamar Bersalin
Angka Kematian Ibu 0% Koordinator Kamar Bersalin
Kecepatan Waktu Pemberian Informasi tentang Tagihan Pasien Rawat Inap 100% Kepala Seksi Perbendaharaan & Verifikasi
Tidak Adanya Pasien Umum yang Tidak Membayar Setelah Selesai Pelayanan 100% Kepala Seksi Perbendaharaan & Verifikasi
Kepatuhan Penulisan Diagnosa Pada Form Permintaan Pasien Laboratorium 100% Kepala Instalasi Laboratorium
Tidak Adanya Instrumen Yang Hilang 100% Kepala Instalasi Sterilisasi & Laundry
Ketepatan Waktu Penyerapan Linen Rawat Inap 100% Kepala Instalasi Sterilisasi & Laundry
Ketepatan Jumlah Penyerahan Linen 100% Kepala Instalasi Sterilisasi & Laundry
Ketepatan Waktu Pengurusan Kenaikan Gaji 100% Kepala Seksi Personalia
Ketepatan Prosedur Pengangkatan Pegawai 100% Kepala Seksi Personalia
Kejadian Kegagalan Pelayanan Rontgen ≤ 2% Kepala Instalasi Radiologi
Pelaksana Ekspertisi Hasil Pemeriksaan 100% Kepala Instalasi Radiologi
Waktu Tunggu Hasil Pelayanan Thorax Foto ≤ 3 jam Kepala Instalasi Radiologi
Tidaka Adanya Kesalahan Pemberian Label 100% Kepala Instalasi Radiologi
Kepatuhan Skrining Nyeri Pasien Rawat Inap 100% Kepala Instalasi Rawat Inap
Tidak Adanya Pasien Rujuk di Rawat Inap ≤ 5% Kepala Instalasi Rawat Inap
Kepatuhan Monitoring Pemberian Darah pada Pasien yang Dilakukan Transfusi 100% Kepala Instalasi Rawat Inap
Kepatuhan Kontrol Pertama Bayi yang Lahir di RSB 80% Kepala Instalasi Rawat Jalan
Ketersediaan Pelayanan 100% Kepala Instalasi Rawat Jalan
Tidak Adanya Pasien Rujuk di Rawat Jalan ≤ 5% Kepala Instalasi Rawat Jalan
Kelengkapan Pengisian Resum Medis 24 Jam Setelah Selesai Pelayanan 100% Kepala Seksi Rekam Medis
Kelengkapan Informed Concent Setelah Mendapatkan Informasi yang Jelas 100% Kepala Seksi Rekam Medis
Kalibrasi Alat 100% Kepala Seksi RT & IPSRS
Ketepatan Waktu Pemeliharaan Alat 100% Kepala Seksi RT & IPSRS
Pengolahan Limbah Padat Berbahaya sesuai Dengan Aturan 100% Kepala Seksi RT & IPSRS
Pengawasan Keliling Oleh Petugas Keamanan 100% Kepala Seksi RT & IPSRS
Pencatatan & Pelaporan Pasien TB 100% Ketua Tim TB DOTS
Kepatuhan Pemeriksaan HIV pada Pasien TB 100% Ketua Tim TB DOTS
Kepatuhan Pemeriksaan HIV pada Pasien Ibu Hamil 100% Ketua Tim HIV
Ketepatan Waktu Pelaporan IKP 100% Ketua Tim IKP
Perawatan Metode Kanguru 100% Ketua Tim PONEK
Rawat Gabung 100% Ketua Tim PONEK
Angka Kematian Ibu 0% Ketua Tim PONEK
Angka Kematian Bayi 0% Ketua Tim PONEK
Kepatuhan Penggunaan APD 100% Ketua Tim PONEK
Kegiatan Pencatatan & Pelaporan INOS 100% Ketua Tim PONEK

Pencatatan dan pelaporan indikator mutu dilaksanakan tiap bulan oleh unit yang terkait dan dianalisa tiap bulan, proses tersebut dilakukan melalui monitoring indikator mutu yaitu proses analisis, penilaian dan pengumpulan informasi secara sistematis dan kontinyu terhadap indikator mutu sehingga dapat mengidentifikasi persoalan, dapat mengetahui yang dikerjakan telah berhasil atau belum dan dijadikan koreksi untuk penyempurnaan indikator mutu selanjutnya. Hasil pengukuran lebih tinggi atau lebih rendah dari target digunakan sebgai bahan untuk menemukan upaya perbaikan.

 

 

PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RS BANYUMANIK SEMARANG TAHUN 2019

Oleh : KMKP RSB

 

Setelah RS Banyumanik Semarang mendapatkan gelar Akreditasi Lulus Paripurna tahun 2017, maka rumah sakit diwajibkan untuk mengikuti reakreditasi setelah 3 tahun. Maka RS Banyumanik Semarang berencana akan melaksanakan reakreditasi pada bulan Januari tahun 2020 mendatang sesuai dengan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit) Edisi 1.

Akreditasi rumah sakit merupakan proses kegiatan peningkatan mutu pelayanan yang dilakukan terus menerus oleh rumah sakit. Akreditasi adalah pengakuan terhadap mutu pelayanan rumah sakit, setelah dilakukan penilaian bahwa rumah sakit telah memenuhi standar akreditasi.

Akreditasi memberikan acuan kepada rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan pasien dan menjamin keselamatan pasien dengan sebuah program. Oleh karena itu, RS Banyumanik Semarang mempunyai program peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) yang menjangkau ke seluruh unit kerja di rumah sakit. Untuk melaksanakan program tersebut memerlukan koordinasi dan komunikasi yang baik antara kepala bidang / divisi medis, keperawatan, penunjang medis, administrasi, dan lainnya termasuk kepala unit / departemen / instalasi pelayanan.

Kegiatan pokok Komite Mutu & Keselamatan Pasien RS Banyumanik Semarang Tahun 2019 adalah:

  1. Melakukan rapat koordinasi
  2. Menyusun RKA (Rencana Kerja & Anggaran) KMKP
  3. ReviewIndikator Mutu Area Klinis, Indikator Mutu Area Manajemen, Indikator Mutu Area Sasaran Keselamatan Pasien.
  4. Menyusun profil indikator
  5. Pemantauan Indikator Mutu IAK, IAM, ISKP dan Indikator Lokal
  6. ReviewPanduan Praktik Klinik dan Clinical Pathway/ Prosedur/ Algoritme/ Standing Order/ Protokol, termasuk memantau kepatuhan pelaksanaan Clinical Pathway/ Prosedur/ Algoritme/ Standing Order/ Protokol.
  7. Pengukuran dan Evaluasi Budaya Keselamatan Pasien
  8. ReviewPanduan terkait PMKP
  9. ReviewSPO terkait PMKP
  10. Penyampaian informasi program PMKP
  11. Pelaksanaan dan Pemantauan Manajemen Risiko
  12. Mengembangkan Sistem Assesmen Risiko secara Proaktif (FMEA, ACRA, HVA)
  13. Melaksanakan Program Pendidikan dan Pelatihan PMKP
  14. Analisa dan Validasi Data Indikator Mutu
  15. Publikasi data indikator mutu
  16. Memantau, mengumpulkan dan menganalisa data Sentinel, KTD, KNC
  17. Mengevaluasi Kinerja Karyawan/ Staf
  18. Mengumpulkan dan menganalisa data indikator mutu
  19. Pemantauan MDG’s
  20. Monitoring dan Evaluasi Manajemen Kontrak

 

Program peningkatan mutu dan keselamatan pasien ini yang akan dievaluasi setiap akhir tahun untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di RS Banyumanik Semarang. Dengan program kerja yang telah disyahkan oleh Badan Pengurus Yayasan Al Manshurin Semarang Nomor : KEP_001/BP_YAM/I/2019 ini, RS Banyumanik Semarang akan memberikan  pelayanan kesehatan paripurna yang terbaik kepada masyarakat dengan menyediakan sumber daya manusia yang professional kepada pasien. Sesuai dengan motto RS Banyumanik Semarang yaitu “Kesembuhan Anda Harapan Kami”.

 

 

Laporan Capaian Indikator Kepuasan Pasien Rawat Inap Periode Oktober – Desember Tahun 2017

Kepuasan pelanggan adalah tingkat keadaan perasaan seseorang yang merupakan hasil perbandingan antara penilaian kinerja/ hasil akhir produk dalam hubungannya dengan harapan pelanggan. (Kotler & Keller, 2013). Jadi kepuasan atau ketidakpuasan adalah kesimpulan dari interaksi antara harapan dan pengalaman sesudah memakai jasa atau pelayanan yang diberikan.
Aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pada pasien adalah sebagai berikut :
a. Sikap pendekatan petugas pada pasien
b. Kualitas perawatan yang diterima oleh pasien
c. Prosedur administrasi
d. Fasilitas-fasilitas yang disediakan rumah sakit.
Didalam profil indikator yang telah ditetapkan definisi operasional kepuasan pasien rawat inap adalah kepuasan pasien/ penunggu pasien di Rumah Sakit Banyumnaik Semarang selama dirawat di Rumah Sakit Banyumnaik Semarang. Tujuannya adalah tergambarnya kepuasan pelanggan terhadap pelayanan di rumah sakit. Pencatatan dan pelaporan indikator dilakukan tiap bulan dengan periode analisis tiap 3 bulan. Numerator yang diukur adalah Jumlah kumulatif pasien/ penunggu pasien rawat inap yang puas dalam satu bulan, sedangkan yang menjadi denominator adalah Jumlah seluruh pasien rawat inap dalam bulan tersebut. Data diambil dengan cara observasi langsung. Dengan target capain yang digunakan ≥90%. Berikut adalah data capaian indikator kepuasan pasien rawat inap Rumah Sakit Banyumnaik Semarang.

kepuasan

ANALISA:
Dari grafik terlihat bahwa hasil capaian indikator kepuasan pasien rawat inap periode Oktober – Desember 2017 di Rumah Sakit Banyumnaik Semarang telah sesuai dengan target yang ditetapkan RS dan SPM (Standar Pelayanan Minimal) yaitu ≥ 90%. Tentunya upaya-upaya perbaikan dilakukan secara terus menerus sehingga pada bulan berikutnya pencapaian dapat terus sesuai terget, antara lain:
a. Meningkatkan sikap pendekatan petugas pada pasien
b. Menyediakan Sumber Daya Manusia yang religius dan profesional sesuai misi Rumah Sakit Banyumnaik Semarang, dengan cara meningkatkan ilmu pengetahuan dalam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
e. Menjaga kualitas perawatan yang diterima oleh pasien
f. Pelayanan administrasi di Rumah Sakit Banyumnaik Semarang tidak membedakan latar belakang pasien. Semua pasien diperlakukan sama baik pasien asuransi maupun pasien umum.
c. Menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan pasien selama berada di lingkungan Rumah Sakit Banyumnaik Semarang.

 

 

Laporan Capaian Indikator Waktu Tunggu Operasi Elektif Tahun 2016

 

Menurut Azwar (1993) yang dikutip dalam Mashuri (2012), waktu tunggu merupakan salah satu dari aspek mutu menurut dimensi pasien. Waktu tunggu dapat bervariasi berdasarkan saat memulai penelitian sampai dengan akhir penelitian. Waktu tunggu operasi elektif menurut Indikator Kinerja Rumah Sakit Badan Layanan Umum 2013 adalah rata-rata lama menunggu sebelum dioperasi elektif dalam hitungan hari. Waktu tunggu sebelum operasi dihitung berdasarkan waktu tunggu pasien sejak diputuskan operasi elektif dan telah dijadwalkan di kamar operasi sampai dilaksanakannya tindakan operasi elektif. Standar waktu tunggu sebelum operasi elektif berdasarkan Indikator Kinerja RS BLU Tahun 2013 adalah 2 (dua) hari. Waktu tunggu operasi elektif menurut Kepmenkes No. 129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit merupakan tenggang waktu yang dimulai dari dokter memutuskan untuk operasi yang terencana sampai dengan operasi mulai dilaksanakan. Standar waktu tunggu berdasarkan SPM Rumah Sakit adalah ≤2 (dua) hari.

Menurut Siregar (2006) yang dikutip oleh Mashuri (2012), terdapat 5 (lima) hal yang menyebabkan keterlambatan penanganan kasus prabedah, yaitu:
a. Birokrasi administrasi
b. Lamanya pemasangan instrumentasi prabedah
c. Penanganan pasien yang tidak terorganisir
d. Ketidaksiapan ruang perawatan
e. Lamanya penanganan/konsultasi anestesi

Didalam profil indikator yang telah ditetapkan definisi operasional waktu tunggu operasi elektif adalah tenggang waktu mulai dokter memutuskan untuk operasi yang terencana sampai dengan operasi mulai dilaksanakan. Tujuannya adalah tergambarnya kecepatan penanganan antrian pelayanan bedah. Pencatatan dan pelaporan indikator dilakukan tiap bulan dengan periode analisis tiap 3 bulan. Numerator yang diukur adalah Jumlah kumulatif waktu tunggu operasi yang terencana dari seluruh pasien yang dioperasi dalam satu bulan, sedangkan yang menjadi denominator adalah Jumlah pasien yang dioperasi dalam bulan tersebut. Data diambil dengan cara observasi langsung. Dengan target capain yang digunakan 100%. Berikut adalah data capaian indikator waktu tunggu operasi elektif.

respontime

ANALISA:
Dari grafik terlihat bahwa hasil capaian indikator waktu tunggu operasi elektif periode Oktober – Desember 2016 di RS Banyumanik Semarang telah sesuai dengan target dan standar dalam SPM Rumah Sakit yaitu 100%. Tentunya upaya-upaya perbaikan dilakukan secara terus menerus sehingga pada bulan berikutnya angka pelaporan tidak menurun, anatara lain:
a. Penjadwalan tindakan operasi sesuai urutan daftar tunggu operasi pasien.
b. Menyediakan tim operasi yang siap melakukan operasi.
c. Menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam tindakan operasi.
Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki capaian indikator tersebut antara lain dengan selalu melakukan tatalaksana/ prosedur sesuai dengan SPO yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Banyumanik Semarang guna mempertahankan capaian indikator pada periode selanjutnya.

 
 

 

 

Laporan Capaian Indikator Respon Time Pelayanan IGD Tahun 2016

 

Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut (Pasal 1 UU RI No. 44 tahun 2009)
Pasien yang masuk ke IGD RS tentunya butuh pertolongan yang cepat dan tepat untuk itu perlu adanya standar dalam memberikan pelayanan gawat darurat sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat darurat dengan respontime yang cepat dan penanganan yang tepat. Semua itu dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumberdaya manusia dan manajemen Instalansi Gawat Darurat Rumah Sakit sesuai dengan standar.

Disisi lain, desentralisasi dan otonomi telah memberikan peluang daerah untuk mengembangkan daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya serta siap mengambil alih tanggung jawab yang selama ini dilakukan oleh pusat. Untuk itu daerah harus dapat menyusun perencanaan di bidang kesehatan khususnya pelayanan gawat darurat yang baik dan terarah agar mutu pelayanan kesehatan tidak menurun, sebaliknya meningkat dengan pesat. Oleh karenanya Depkes perlu membuat standar yang baku dalam pelayanan gawat darurat yang dapat menjadi acuan bagi daerah dalam mengembangkan pelayanan gawat darurat khususnya di Instalansi Gawat Darurat RS.

Didalam profil indikator yang telah ditetapkan definisi operasional respontime / waktu tanggap adalah waktu yang dibutuhkan mulai pasien datang di IGD sampai mendapat pelayanan dokter. Tujuannya adalah terselenggaranya pelayanan yang cepat, responsif dan mampu menyelamatkan pasien gawat darurat. Pencatatan dan pelaporan indikator dilakukan tiap bulan dengan periode analisis tiap 3 bulan. Numerator yang diukur adalah jumlah kumulatif waktu yang diperlukan sejak kedatangan semua pasien yang di sampling secara acak sampai dilayani dokter sedangkan yang menjadi denominator adalah jumlah seluruh pasien yang di sampling. Data diambil dengan cara observasi langsung. Dengan target capain yang digunakan 100%. Berikut adalah data capaian indikator respontime pelayanan IGD ≤ 5 menit terlayani.

respontime

ANALISA:
Dari grafik terlihat bahwa hasil capaian indikator respontime / waktu tunggu pelayanan gawat darurat di RS Banyumanik Semarang terus mengalami peningkatan yang signifikan setiap bulannya meskipun belum sesuai dengan target. Sosialisasi yang terus menerus tentu sangat berpengaruh terhadap pengisian check list pemantauan waktu tunggu pelayanan gawat darurat. Tentunya upaya upaya perbaikan dilakukan secara terus menerus sehingga pada bulan berikutnya angka pelaporan tidak menurun. Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki capaian indikator tersebut antara lain dengan selalu melakuakn sosialisasi pengisian check list kepada petugas / dokter, agar pencapaian respontime pelayanan IGD ≤ 5 menit dapat tercapai 100% sesuai dalam Standar Pelayanan Minimal.